Kunci Kemajuan islam adalah persatuan bukan perpecahan

Share it:
Dunia politik umat Islam di Indonesia tercerai-berai dalam beberapa partai politik, baik parpol berasaskan Islam maupun parpol berbasis massa umat Islam. Padahal dari proses hitung cepat pada pemilihan legislatif yang baru lalu, total perolehan parpol Islam tidak kurang dari 32%, sebuah angka yang dapat ditukar secara langsung dengan tiket pencalonan presiden yang mensyaratkan perolehan minimal 20% anggota legislatif pusat atau perolehan 25% pemilihan tingkat nasional bagi parpol yang akan mencalonkan presidennya sendiri tanpa koalisi.

Larangan Bercerai-berai

Sudah berulangkali umat Islam diseru untuk bersatu, baik pada level lokal, nasional, regional maupun internasional. Sesungguhnya seruan yang lebih tepat adalah “larangan untuk bercerai-berai”, bukan untuk bersatu, sebagaimana Allah Swt menyeru dalam Alquran:

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS. Ali Imran:105) 

Disamping kita diseru oleh Allah Swt untuk tidak bercerai-berai ataupun berselisih, kita juga diseru-Nya untuk bersama-sama berpegang erat pada tali (agama) Allah: 

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103) 

Persatuan pada hakikatnya merupakan “hasil”, bukan “tujuan”, dari kesungguhan umat berpegang teguh pada agama Allah yaitu Alquran dan sunah Nabi Saw. Dengan berjamaah berpegang teguh pada Alquran dan As-sunah maka otomatis umat akan bersatu, kebalikannya dengan mengikuti jalan-jalan selain yang telah diajarkan Alquran dan As-Sunah maka otomatis umat akan bercerai berai:

 dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. An-Naml: 153)

Allah azza wa jalla yang dapat mempersatukan umat Islam, bukan kemauan semata umat itu sendiri:

dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Anfal: 63) 

Nabi SAW mengajarkan agar umat Islam menjaga diri dari perselisihan satu sama lain dalam segala hal, bahkan termasuk dalam hal mendalami Al-Quran:

Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah mengabarkan kepada kami Abdushshamad telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Abu 'Imran Al Jauni dari Jundab bin Abdullah bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Bacalah alquran, selama menjadikan hati kalian bersatu padu, namun jika kalian berselisih, tinggalkanlah." Abu Abdullah berkata, Yazid bin harun berkata dari Harun Al Al'war telah menceritakan kepada kami Abu Imran dari Jundab dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."
 (HR. Bukhari).

Kondisi yang ada dewasa ini betapa umat Islam mudah sekali berselisih, bercerai-berai, saling menghujat, saling pecat-memecat dalam berorganisasi, perang saudara dan sebagainya, untuk kepentingan yang sebagian besar urusan duniawi belaka. Sedangkan berselisih dalam mendalami Alquran saja dilarang oleh Nabi SAW apatah lagi berselisih dalam urusan lainnya.

Umat Bersatu tidak akan Terkalahkan

Sering kita dengar dalam pengajian atau berbagai pernyataan bahwa jika umat bersatu maka tidak akan terkalahkan. Sebetulnya kata-kata itu bukan semata kata-kata sloganistis, melainkan kata-kata yang mengandung kebenaran berdasarkan hadits Nabi SAW yang cukup panjang tapi saya ambil bagian yang langsung terkait saja:

Aku (Allah SWT) tidak akan menjadikan umatmu dikuasai oleh musuh dari luar mereka yang melucuti pelindung kepala mereka, meskipun mereka diserang dari berbagai penjuru, kecuali jika sesama umatmu saling menghancurkan dan saling menawan (HR. Muslim).

Untuk itu umat Islam perlu melakukan instrospeksi dengan siapa akan bersatu atau berkoalisi sebagaimana telah diperingatkan Nabi Saw:
 
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi Saw bersabda, "Agama seseorang itu cenderung mengikuti agama temannya, oleh karena itu setiap orang dari kalian hendaknya melihat (memperhatikan) siapa yang ia pergauli." {Musnad abu Dawud (4833), Hasan. At-Tirmidzi (2497)}

Nabi Saw juga telah memperingatkan:

Dari Abu Hurairah ra (hadits ini sampai kepada Rasulullah Saw secara marfu'). Beliau bersabda, "Ruh-ruh itu laksana tentara yang bersenjata, mereka yang saling mengenal (cocok) akan bersatu, dan yang bertentangan akan bercerai berai (berselisih)." {Sunan Abu Dawud (4834), Shahih: Al Misykah (5003) edisi kedua, Adh-Dha'ifah (5527): Muslim, Bukhari dengan komentar dari hadits Aisyah RA.}

Ada sebuah ungkapan yang terkenal dewasa ini yaitu “the law of attraction”, yang artinya kurang lebih seseorang akan tertarik satu sama lain jika ada kesamaan pikiran. Ungkapan ini menyerupai dengan hadits terakhir di atas.

Lantas bagaimanakah agar kita bisa menjadi ruh-ruh yang saling cocok satu sama lain? Tidak ada jalan lain kecuali kita mengikuti perintah Allah Swt sebagaimana telah disebut di atas: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..."

Wallaahua’lam bisshawab.
Share it:

sosial

Post A Comment:

0 comments: